[PENTING!] Mari Belajar Menghitung Kebutuhan Asuransi Secara Islami, Bukan Hanya yang Penting Labelnya Syariah Saja


PAKARASURANSI.ID - Pada kesempatan ini pakarasuransi.id ingin mengajak kita, para praktisi asuransi, khususnya yang memasarkan produk syariah cara menghitung kebutuhan asuransi secara Islami, bukan hanya yang penting labelnya syariah saja. 

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita.

Apakah asuransi dapat dipergunakan terutama dalam perencanaan keuangan secara Islami (Islamic financial planning)? Meskipun sudah terdapat perusahaan asuransi yang menggunakan prinsip syariah, seperti Asuransi Syariah atau Takaful, tetapi pada dasarnya cara penjualan meraka belum Islami. Hal ini dikarenakan agen-agen penjual asuransi Islami tidak dapat dilepas dari hukum waris (faraid) untuk menentukan kebutuhan perlindungan atau coverage.

Di dalam penghitungan asuransi secara konvensional dikenal dengan metode penghitungan kebutuhan menggunakan rumus human life value (HLV), income based value (IBV), dan survival based value (SBV).

Metode ini sangat jarang digunakan oleh agen asuransi konvensional. Hampir semua agen asuransi konvensional menjual produk asuransi asuransi mereka bukan berdasarkan kebutuhan proteksi nasabah, melainkan berdasarkan kemampuan membayar premi dari nasabah.

Rumusan HLV, IBV, dan SBV dapat dipakai juga dalam menentukan keubutuhan asuransi secara Islami. Akan tetapi, yang lebih mendekati cara Islam (Islamic methodology) sebenarnya dengan menggunakan hukum faraid. Di dalam Al-Quran jelas sekali diatur tata cara pembagian harta warisan, yaitu menyebutkan bahwa istri berhak atas 1/8 dari harta waris, orangtua masing-masing berhak atas 1/6 dari harta waris, anak laki-laki mendapatkan 2/3, dan anak perempuan mendapatkan 1/3 dari harta waris.

Selain itu, Al-Quran juga menyebutkan minimum “bekal” atau dana yang harus dimiliki seorang istri yang ditinggalkan. Bagi kalian yang meninggal dunia dan meninggalkan janda haruslah memenuhi minimum satu tahun kebutuhan hidupnya dan tempat tinggalnya, tetapi jika dia meninggalkan tempat tinggal tersebut, tidak dapat disalahkan bagi kalian atas apa yang dilakukannya dan Allah Maha Mengetahui (QS Al-Baqarah [2] : 240).

Lalu bagaimana cara menghitung kebutuhan asuransi secara Islami? Anggap saja kebutuhan bulanan dari sang istri yang saat ini memiliki seorang anak adalah Rp 5 juta dan kebutuhan tempat tinggal Rp 3 juta sehingga total kebutuhan per bulan adalah Rp 8 juta. Untuk memenuhi kebutuhan minimum selama satu tahun seperti yang telah disebutkan dalam Al-Quran, seorang nasabah harus memiliki dana sebesar Rp 8 juta x 12 bulan = Rp 96 juta.

Harus diingat dana sebesar Rp 96 juta tersebut hanya untuk si istri yang mendapat “jatah” waris sebesar 1/8. Di dalam ilmu faraid dikatakan pula bahwa seorang istri yang tidak memiliki anak berhak atas 1/4 dari harta waris yang ditinggalkan oleh sang suami termasuk asuranasinya. Dan untuk istri yang memiliki anak, hak warisnya sebesari 1/8 dari harta yang ditinggalkan termasuk asuransi. Oleh sebab itu, penghitungan kebutuhan asuransi minimum untuk keluarga ini adalah Rp 96 juta x 8 = Rp 768 juta. Sangat mudah bukan? Sayang sekali ilmu dan tata cara penghtungan seperti ini belum banyak diketahui di Indonesia. Nah,setelah mengetahui minimum kebutuhan tersebut, barulah kita melakukan pemilihan produk asuransi yang sudah tentu harus Islami. Dan semoga apa yang kita inginkan dalam mencari ridha dan rahmat Allah dalam berasuransi dapat terkabul dan bisa berjalan dengan baik.

Jadi, bisa dong memberikan solusi hitungan terbaik kebutuhan asuransi nasabah secara Islami? Semoga bermanfaat.

Sumber artikel dicopas dari https://www.facebook.com/abdur.rofiq.505

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "[PENTING!] Mari Belajar Menghitung Kebutuhan Asuransi Secara Islami, Bukan Hanya yang Penting Labelnya Syariah Saja"

Posting Komentar